Jumat, 24 Juni 2016

Melepaskan

Seorang wanita duduk menghadap tembok hidup. Wajahnya terhalang secarik kertas tipis yang mulai basah oleh air matanya. Usianya terbilang dewasa, raut wajahnya menyimpan janji kehidupan yang sudah direncanakan. Guratan kantung mata terlukis tegas di bawah matanya. Belum lagi matanya yang mulai meredup karena lelah menangis. 

Tangannya melepaskan secarik kertas tipis itu, membiarkan kertas jatuh tersungkur langsung ke tanah. Tangannya mulai merogoh tas punggung yang digembloknya. Sambil menahan tangis yang tak kunjung mereda, ia pun mengambil sesuatu dari dalam tasnya dengan gemetaran. Entah benda apa namanya, pun siapa pula yang memberinya. Tapi, satu hal yang kulihat, benda itulah sumber isak tangisnya. 

Perlahan benda yang tak kutahu itu mulai dikeluarkan. 

Ah, cantik sekali benda itu, meskipun aku belum tahu namanya. Ingin sekali menanyakannya, tapi itu hanyalah membuatnya terganggu dalam kesedihannya. Hingga aku pun mendiamkannya dengan harap ia mau berbagi sedikit tentang benda yang digenggamnya. Tapi, itu hanyalah keajaiban jika ia benar - benar mau bercerita dengan laki - laki yang belum dikenalnya. 

Ia menggenggam lebih erat benda di tangannya. Aku pun tidak bisa terus - menerus mengabaikannya, rasa penasaran ini terus bergejolak dalam diriku. 

Ia menoleh ke arahku yang sedang menatap prihatin dirinya. Mendadak aku gelagapan karena malu. 

"Mengapa kau sejak tadi memperhatikanku?"tanya wanita itu.
"Eh, maaf aku hanya ingin tahu mengapa kau sejak tadi menangis. Tapi, saat ini aku sudah tau penyebabnya. Benda cantik itu yang tidak kutahu namanya, bukan?"jawabku gugup. 
"Ini sebuah liontin huruf A yang memiliki seribu arti di baliknya. Pemberian seseorang yang pernah melukiskan goresan indah di hidupku, juga menggurat luka di hatiku. Ah, semuanya hanyalah masalah sepele tapi mampu membuatku terisak seperti ini."ucap wanita itu sambil terisak lagi
"Jika kau mau berbagi kisahmu, ceritakanlah kepadaku meskipun kita tidak saling mengenal. Mungkin, boleh jadi jika kau menceritakannya maka tangis itu akan mereda sedikit"pintaku. Ia pun mengangguk.

Benda yang disebutnya liontin itu diberikan kepadaku, gelagapan aku menerimanya. Liontin itu dingin sekali, entah karena terbuat dari material yang dingin atau apa, yang jelas liontin itu dingin sedingin - dinginnya. 

"Cobalah kau balik lingkaran yang bertuliskan huruf A itu"pintanya. Aku pun membalik liontin itu. Dan hei, seperti ada goresan karat namun bermotif indah, tapi aku pun tidak tahu apa itu. 

"Itu bukanlah lukisan karat. Liontin itu sepasang dengan seseorang yang memberinya kepadaku. Guratan yang kau kira karat itu sangat berarti sekali. Meskipun tidak hanya aku yang diberinya liontin itu, ada enam orang lagi yang diberinya liontin huruf itu. Tapi, guratan yang kau sebut karat itu hanyalah ada di liontin milikku dengan liontin seseorang itu."jelasnya sambil membasuh air matanya dengan kertas tipis yang baru. 

"Lalu, yang kau sebut seribu arti itu apa?"tanyaku bingung

"Guratan karat itu sebenarnya sudah ada sejak ia memberikannya kepadaku. Tapi, aku baru mengetahuinya semalam, saat semua potongan teka - teki kenangan masa laluku terungkap. Liontin itu selalu indah, dibalik liontin itu ada guratan hati yang hanya separuh, yang jika liontin seseorang itu dijejerkan dengan liontinku maka akan membentuk potongan hati yang utuh."jelasnya

Aku pun menatapnya tercengang. Pantas saja ia menangis. 

"Ia mencintaiku. Menitipkan setengah potongan hatinya kepadaku, yang juga menitipkan perasaan cinta yang sangat indah untukku. Tapi, aku baru mengetahuinya ketika ia pergi. Liontin itu ia yang merangkai dan membuatnya sendiri, guratan setengah hati itu pun ia yang melukiskannya, berharap suatu saat nanti aku dengannya bisa bersatu. Tapi, ia tak pernah mau mengakui semua itu, hingga ia pun sudah bersama perempuan lain, yang tidak dicintainya."jelasnya, tangisnya pun masih terus mengalir. 

"Sudahlah, aku mengerti semuanya, aku jauh lebih mengerti. Sudah cukup kau ceritakan sampai disini, aku tidak tega melihatmu yang terus menangis. Aku tahu, seseorang yang memberimu liontin itu tidak pernah mau jujur, hingga ialah yang terjebak sendiri dalam kebohongan atas perasaannya. Aku tahu semuanya, karena aku pun mengalaminya, aku mengalami semua dampak dari kebohongan atas perasaanku."ucapku, malam ini terlalu sesak kulewati. Setelah aku tahu bahwa ini pun beda tipis dengan kisah hidupku. Wanita yang terisak ini pun pasti keadaannya sama dengan seseorang yang ada di hatiku. 

"Lepaskanlah seseorang itu, kau tidak perlu melanjutkan ceritamu, aku tahu semua kelanjutannya. Karena, ada wanita yang sama sepertimu, dia masa laluku. Kau hanya perlu melepaskannya, jangan pernah berniat melupakannya. Kau hanya perlu merelakannya, bukan mengejarnya lagi dengan membawa potongan teka - teki itu. Maaf, aku hanya ingin berdamai dengan masa laluku. Tak ingin aku melukiskannya kembali, memutar pahitnya hidup seperti yang kau alami. Karena sudah cukup semuanya. Aku harus pergi"jawabku. 

Ah, rencana apalagi ini. Aku memilih pergi saja, membiarkan wanita itu dengan kesedihan yang mendalam. Karena aku tahu, sekalipun aku beri seribu saran kepadanya, ia tetap mengelak dan tetap berniat mengubah takdir. Karena, orang yang sedang memendam perasaan ia akan terus mengaitkan segala hal untuk membenarkan perasaannya. Sekalipun semuanya memang benar, tapi takdir takkan bisa diubah dengan sendiri tanpa kehendak Allah. Bahkan, jika wanita itu mengadukan semua potongan teka - teki yang telah terungkap kepada seseorang itu pun tak akan mereka bersama lagi. 

Lepaskanlah. Boleh jadi akan ada takdir yang indah jika kau mengikhlaskannya. Sekalipun kau tidak bersamanya, akan ada ganti yang jauh lebih baik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar